Lawan KLB Campak di Sumenep, Kemenkes Gencarkan Vaksinasi

ilustrasi vaksinasi pada anak (foto: kemenkes)

Penyebab dan Respons Pemerintah

Tingginya kasus campak di Sumenep disebut-sebut sebagai cerminan rendahnya cakupan imunisasi di wilayah tersebut.

Pola ini tidak hanya terjadi di Sumenep, melainkan juga di beberapa wilayah lain.

Hingga awal Agustus 2025, Kemenkes mencatat 40 KLB campak di 37 kabupaten dan kota di Indonesia. Rinciannya, 3.282 kasus terkonfirmasi dan 22.074 kasus suspek.

Sebagai respons, Kemenkes terus memperkuat layanan kesehatan dan menggenjot edukasi melalui Posyandu.

“Nanti masyarakat bisa teredukasi dengan baik, melakukan vaksinasi dengan baik, dan tidak terdampak dengan penyakit yang bisa sebenarnya dicegah dengan vaksinasi, seperti campak tadi,” tambah Wamenkes Dante.

Upaya ini menjadi strategi jangka panjang pemerintah untuk memastikan masyarakat memiliki pemahaman yang baik tentang pentingnya vaksinasi.

Apa Itu Campak?

Dikutip dari web resmi Kemenkes, campak disebabkan oleh infeksi virus melalui percikan air liur saat penderita batuk atau bersin. Kemudian ada kontak langsung dengan penderita, dan benda yang terkontaminasi virus campak.

  • Campak biasanya ditandai dengan:
  • Pilek atau flu disertai batuk dan sakit tenggorokan
  • Demam tinggi, bisa hingga 40 derajat
  • Mata yang menjadi kemerahan, mudah berair, dan sensitif terhadap cahaya
  • Ruam di area kepala (wajah dan telinga) yang kemudian menyebar ke seluruh tubuh
  • Bintik-bintik kecil di dalam bagian dalam mulut
Baca Juga  Tinjau Banjir Bekasi, Wapres Gibran Instruksikan Pejabat Turun Bantu Warga

BERITA TERKAIT

ADVERTISEMENT
Scroll to Top