Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, memaparkan kedua opsi tersebut, yakni memberikan suntikan modal tambahan (Equity) ke dalam proyek proyek Kereta Cepat Indonesia China untuk memperkuat struktur permodalan.
Kedua, skema di mana infrastruktur fisik KCIC (seperti rel dan stasiun) diserahkan dan dimiliki oleh pemerintah.
“Sebagaimana industri kereta api yang lain, infrastrukturnya itu milik pemerintah. Nah, ini dua opsi ini yang kita coba tawarkan,” ujar Dony Oskaria.
Dony menegaskan bahwa solusi harus segera ditemukan. Di satu sisi, proyek Whoosh terbukti sukses memberikan dampak ekonomi signifikan dan memangkas waktu tempuh, dengan jumlah penumpang harian yang terus meningkat hingga mencapai 30 ribu orang per hari.
“Tapi dari satu sisi kita juga memperhatikan keberlanjutan daripada KAI itu sendiri. Karena KCIC ini sekarang bagian daripada KAI, inilah yang kita cari solusi terbaik,” pungkas Dony. ***






