JAKARTA, ULASANBERITA.COM – Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah serius dan masif untuk memastikan keamanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan membentuk dua lini investigasi mendalam.
Langkah ini diambil menyusul laporan 70 kasus keracunan yang terjadi sepanjang Januari hingga September 2025, yang telah berdampak pada ribuan penerima manfaat.
Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, mengungkapkan bahwa tim investigasi tersebut melibatkan unsur aparat keamanan negara, yakni Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Badan Intelijen Negara (BIN).
Selain itu, BGN juga menggandeng pakar independen dari berbagai disiplin ilmu seperti ahli kimia, farmasi, dan chef, untuk menjamin hasil yang objektif dan komprehensif.
“Di tim investigasi ini kita bentuk dua. Dari dalam ada Deputi Tauwas, itu pemantauan dan pengawasan, nanti akan bekerja sama, di situ ada Kepolisian, BIN, Dinkes, BPOM, dan juga pemda setempat untuk mengadakan investigasi, ” kata Nanik dalam keteranga tertulis yang dikutip Selasa (30/9/2025).
Investigasi Penyebab Kontaminasi
Pendekatan multidisiplin ini diharapkan mampu mengungkap seluruh aspek penyebab keracunan, yang selama ini diduga hanya terbatas pada isu Standar Operasional Prosedur (SOP).
Nanik menekankan pentingnya peninjauan dari berbagai sisi untuk menjaga keamanan dan kepercayaan publik terhadap program pangan bergizi pemerintah.
Tim independen bertugas mendalami secara spesifik 70 kasus keracunan yang dilaporkan, yang totalnya telah merugikan 5.914 penerima program MBG.
Data BGN menunjukkan sebaran kasus terbagi rata di seluruh wilayah Indonesia. Wilayah II Pulau Jawa dengan kasus terbanyak, yakni 41 kasus dengan 3.610 penerima terdampak.
Kemudian wilayah I Sumatera dimana terdapat sembilan kasus dengan 1.307 korban. Kemudian wilayah III (Indonesia Timur & Tengah) dimana di wilayah ini terdapat 20 kasus dengan 997 penerima.






